Penulis : Misnawaty S. Nuna
Seringkali kita terjebak pada pemaknaan puasa sebatas menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Padahal, esensi terdalam dari puasa adalah al-imsak, yaitu menahan diri dari segala hal yang dapat merusak nilai ibadah di sisi Allah SWT.
Salah satu instrumen diri yang paling sulit dikendalikan namun paling menentukan kualitas puasa adalah lisan.
Lisan ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi washilah (perantara) menuju surga melalui dzikir, tilawah, dan nasihat kebaikan. Di sisi lain, ia bisa menjadi penggugur seluruh pahala puasa tanpa sisa.
Memahami etika lisan dalam bingkai ibadah shaum menjadi sangat krusial agar puasa kita tidak menjadi ritual lahiriah yang sia-sia.
Pertama: Kesadaran akan Pengawasan Absolut (Muraqabah)
Setiap mukmin yang berpuasa harus menanamkan keyakinan bahwa tidak ada satu kata pun yang terlepas dari pantauan Ilahi.
Dalam kesunyian maupun keramaian, lisan kita senantiasa dipantau oleh malaikat yang ditugaskan Allah.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Qaf Ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Maa yalfidhu min qaulin illaa ladaihi raqiibun 'atiid.
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
Kesadaran ini seharusnya membuat seorang shaim (orang yang berpuasa) berpikir seribu kali sebelum mengeluarkan kata-kata.
Apakah ucapan ini bernilai pahala? Ataukah ucapan ini justru akan menjadi pemberat dosa di hari hisab nanti?
Kedua: Menghindari Ghibah
Salah satu penyakit lisan yang paling berbahaya adalah ghibah atau menggunjing.
Dalam kondisi tidak berpuasa saja ghibah adalah dosa besar, apalagi dilakukan saat kita sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12:
الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Yaa ayyuhalladziina aamanuj-tanibuu katsiiram minadh-dhanni inna ba'dhadh-dhanni ismun, wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhan. Ayuhibbu ahadukum ay ya'kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu. Wattaqullaaha innallaaha tawwaabur rahiim.
"Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini memperingatkan bahwa menggunjing orang lain saat berpuasa secara hakikat merusak kesucian batin kita.
Bagaimana mungkin kita menahan diri dari makanan yang halal (saat siang hari), namun justru "memakan daging" saudara kita sendiri melalui fitnah dan gunjingan
Ketiga: Konsistensi dalam Kebenaran (Qaulun Sadidan)
Kemenangan puasa diraih oleh mereka yang mampu mengubah pola bicaranya dari perkataan yang sia-sia menjadi perkataan yang berbobot dan jujur.
Allah SWT menjanjikan bahwa penjagaan lisan akan berdampak langsung pada diterimanya amal-amal lainnya.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ahzab Ayat 70-71:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaaha wa quuluu qaulan sadiidaa. Yuslih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum, wa may yuthi'illaaha wa rasuulahu faqad faaza fauzan 'adhiimaa.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung."
Ayat ini menjelaskan korelasi kuat antara lisan yang benar dengan perbaikan amal. Jika lisan seseorang terjaga selama Ramadhan, maka Allah akan memudahkan baginya untuk memperbaiki seluruh rangkaian ibadahnya.
Keempat: Menghadapi Provokasi dengan Kesabaran
Di dalam interaksi sosial, seringkali orang yang berpuasa diuji dengan caci maki atau provokasi yang memancing amarah.
Al-Qur'an mengajarkan agar kita tetap tenang dan membalas keburukan dengan perkataan yang mengandung keselamatan (salam).
Allah SWT berfirman mengenai sifat hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih (Ibadurrahman) dalam Surah Al-Furqan Ayat 63:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Wa'ibaadur-rahmaanil ladziina yam-syuuna 'alal ardhi haunaw wa idzaa khaathabahumul jaahiluuna qaaluu salaamaa.
"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam' (kata-kata yang mengandung keselamatan)."
Lidah memang tak bertulang, tapi lisan bisa lebih tajam dari pedang.
Untuk itu, menjaga lisan selama bulan Ramadhan adalah latihan intensif untuk membentuk karakter muslim yang paripurna.
Dengan menjaga lisan, kita sedang memproteksi pahala puasa agar tidak "bocor" akibat maksiat verbal.
Puasa yang sukses bukan hanya meninggalkan lapar dan dahaga, tetapi puasa yang mampu melahirkan pribadi yang lebih santun, lebih jujur, dan lebih bijaksana dalam bertutur kata
Wallahu a'lam bish shawaab